Euforia 'Naek Stempel' di Sungai Komering, Tradisi Lebaran yang Seru, Tapi Sarat Risiko

Euforia 'Naek Stempel' di Sungai Komering, Tradisi Lebaran yang Seru, Tapi Sarat Risiko

Euforia 'Naek Stempel' di Sungai Komering, Tradisi Lebaran yang Seru, Tapi Sarat Risiko--

HARIANMUBA.DISWAY.ID – Suasana Lebaran di tepian Sungai Komering, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kembali semarak dengan hadirnya tradisi khas “naek stempel”, Minggu (22/3/2026). Kegiatan tahunan ini tak sekadar hiburan, tetapi telah menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Sejak siang hari, ratusan warga mulai memadati bantaran sungai di Kayuagung. Mereka datang untuk menikmati sensasi berkeliling menggunakan speedboat atau sekadar menyaksikan kemeriahan yang didominasi kalangan muda.

Ungkapan populer, “Kalau idak basah belum naek stempel,” kembali menggema, menggambarkan betapa tradisi ini sudah melekat kuat dalam budaya masyarakat setempat.

Puluhan speedboat tampak hilir mudik membawa penumpang. Antrean panjang pun tak terhindarkan, menunjukkan tingginya antusiasme warga yang ingin merasakan pengalaman unik tersebut—yang hanya hadir setahun sekali saat Lebaran.

BACA JUGA:Dua Tahun Terputus, Warga Karang Agung Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Demi Ekonomi

BACA JUGA:Kwarcab Muba Matangkan Kontingen, Bidik Prestasi di Jamda IX Sumsel 2026

Namun di balik kemeriahan itu, terselip kekhawatiran serius terkait keselamatan. Banyak penumpang terlihat menaiki perahu tanpa menggunakan pelampung atau perlengkapan keselamatan lainnya, di tengah padatnya lalu lintas di sungai.

Aparat dari Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres OKI pun turun langsung melakukan pengawasan. Petugas aktif memberikan imbauan kepada pengemudi dan penumpang agar tetap mengutamakan keselamatan selama beraktivitas.

Untuk mengantisipasi potensi risiko, kegiatan “naek stempel” dibatasi hingga pukul 16.00 WIB. Perahu yang masih beroperasi melewati batas waktu diminta segera kembali ke daratan, termasuk perahu tradisional atau ketek.

Salah satu pengunjung, Iwan, mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap tradisi ini sangat tinggi. “Dari pagi sudah ramai yang antre. Tarif speedboat Rp50 ribu sekali putaran, sedangkan ketek Rp5 ribu per orang,” ujarnya.

BACA JUGA:Masjid Al Amin Sungai Lilin Jadi Rest Area Favorit Pemudik Jalintim Palembang–Jambi

BACA JUGA:Safari Halal Bihalal Pemkab Muba, Perkuat Koordinasi dari Kapolda hingga Gubernur Sumsel

Meski cuaca cukup terik, semangat warga tak surut. Menurutnya, momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan karena hanya hadir saat Lebaran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI, Ahmadin Ilyas, menyebut “naek stempel” sebagai tradisi spontan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Meski bersifat informal, pengamanan tetap dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Perhubungan dan kepolisian.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: