Tragis, Gadis Cantik Ini Korban Tragedi Kanjuruhan, Padahal Sebentar Lagi akan Dilamar

Tragis, Gadis Cantik Ini Korban Tragedi Kanjuruhan, Padahal Sebentar Lagi akan Dilamar

Tsaniyah korban tragedi Kanjuruhan alumnus Ponpes akan dilamar yang pulang jenazah. Foto: dukumen/oganilir.co--

’Yang saya dengar almarhumah itu menonton sepak bola dengan mbakyunya yang sudah tinggal di Malang. Hanya dua bersaudara. Keduanya perempuan. Jadi, kakak iparnya juga nonton,’’ tambah Gus Athok, panggilan akrab pria yang juga ketua MWC NU Ujungpangkah itu.

Dari informasi yang didapat, Tsaniyah meninggal dunia karena terdampak tembakan gas air mata. Lalu, yang bersangkutan sesak nafas.

Gus Athok mengungkapkan, ayah almarhumah juga termasuk salah seorang guru di SMK pondok pesantrennya. Bahkan, dulu pernah menjabat sebagai kepala sekolah.

Selepas dari SMK Ponpes Mambaul Ikhsan, lanjut dia, Tsaniyah berdomisili di Malang. Kuliah di program studi pendidikan guru madrasah ibtidaiyah (MI) Universita Islam Malang (Unisma). Tinggal di rumah kakaknya. Yang bersangkutan sudah menyelesaikan kuliahnya. Selepas lulus, sebagai pengajar les privat anak-anak SD di Malang.

‘’Saya juga mendengar almarhumah memang mau lamaran. Tapi, ternyata takdir Allah SWT berkehendak lain. Sekali lagi, kami turut mendoakan almarhumah husnul khatimah,’’ pungkas Gus Athok.

Seperti diberitakan, jumlah korban tewas hingga ratusan, data terkini 182 suporter, telah menempatkan Tragedi Kanjuruhan Malang, Jawa Timur sebagai sejarah paling kelam sepakbola Indonesia dan terburuk kedua sepakbola dunia. Tragedi berdarah terbesar pertama terjadi di Peru pada 24 Mei 1964. Ketika itu Estadion Nacional menggelar babak kualifikasi kedua antara Peru vs Argentina dalam kepentingan perhelatan Olimpiade Tokyo.

Kerusuhan menyebabkan 328 orang tewas karena sesak napas dan/atau pendarahan internal.

Bahkan disebutkan kemungkinan jumlah korban tewas dalam peristiwa tersebut lebih banyak.

Urutan kedua targedi sepakbola paling buruk terjadi di Kanjuruhan Malang, Sabtu 1 Oktober 2022. Tragedi ini menewaskan 127 orang untuk data sementara hingga Minggu siang, 2 Oktober 2022.

Sebelum tragedi Kanjuruhan Malang, tragedi ketiga terbesar terjadi di Afrika. Insiden itu terjadi pada 9 Mei 2001 di Stadion Accra Sports, Kinbu Road, Accra, Ghana.

Kejadian di Afrika ini menewaskan 126 orang. Saat itu tengah berlangsung pertandingan derby antara tuan rumah Hearts of Oak dengan sesama klub dari Accra, Asante Kotoko.

Tim tamu unggul 1-0 mendekati akhir pertandingan, namun tuan rumah mencetak dua gol untuk berbalik unggul pada laga tersebut.

Tragedi berikutnya, bentrok antara pendukung Spartak (Moskow) dengan pendukung HFC Haarlem (Belanda) usai pertandingan Piala UEFA di Stadion Luzhniki telah memakan korban jiwa sebanya 66 orang.

Kejadian Oktober 1982 ini pada versi lain, korban yang tewas dalam tragedi tersebut sebanyak 340 jiwa.

Sementara pada April 1989, sepak bola Inggris mengalami insiden terburuk sepanjang sejarah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: