Dua Tahun Terputus, Warga Karang Agung Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Demi Ekonomi

Dua Tahun Terputus, Warga Karang Agung Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Demi Ekonomi

Jembatan putus yang menyulitkan warga--

HARIANMUBA.DISWAY.ID – Sudah hampir dua tahun sejak diterjang banjir pada 2024, dua jembatan gantung di Desa Karang Agung, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), belum juga diperbaiki. Kondisi ini memaksa warga bertaruh keselamatan setiap hari demi menjaga roda perekonomian tetap berputar.

Jembatan yang dulunya menjadi urat nadi aktivitas masyarakat kini hanya menyisakan kerangka rusak. Padahal, akses tersebut sangat vital, terutama bagi petani yang mengandalkan jalur itu untuk mengangkut hasil kebun seperti sawit dan karet.

Kepala Desa Karang Agung, Muhamad Subri, mengungkapkan hingga kini kerusakan jembatan masih menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan.

“Ada dua jembatan gantung di desa kami yang rusak akibat banjir 2024 dan sampai sekarang belum diperbaiki,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).

BACA JUGA:Kwarcab Muba Matangkan Kontingen, Bidik Prestasi di Jamda IX Sumsel 2026

BACA JUGA:Masjid Al Amin Sungai Lilin Jadi Rest Area Favorit Pemudik Jalintim Palembang–Jambi

Akibatnya, warga terpaksa menggunakan lanting atau rakit sederhana untuk menyeberangi sungai, termasuk saat membawa hasil pertanian. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga berisiko, terutama saat debit air meningkat.

“Sekarang warga harus menyebrang pakai lanting untuk membawa hasil sawit, karet, dan lainnya. Ini tentu sangat menyulitkan,” katanya.

Tak hanya berdampak pada ekonomi, rusaknya jembatan juga memutus akses sosial masyarakat. Salah satu jembatan yang rusak merupakan penghubung utama antara Desa Karang Agung dan wilayah seberang yang sebagian masuk Desa Tungku Jaya, Kecamatan Sosoh Buay Rayap.

Dampak paling terasa dialami warga di dua dusun wilayah RT 3 yang masih termasuk Desa Karang Agung. Mereka kini kesulitan beraktivitas sehari-hari, termasuk untuk menjangkau pusat desa.

BACA JUGA:Sinergi Warga dan Polisi Ungkap Kasus Pengeroyokan di Muaradua, Satu Pelaku Diserahkan Keluarga

BACA JUGA:Hyundai Ioniq 9 Sudah Masuk Indonesia, Tapi Masih 'Diuji Pasar' Sebelum Dijual, Ini Spesifikasinya

“Sebelum rusak, ke pusat desa hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Sekarang harus memutar jauh lewat jalur darat, jadi lebih lama,” jelas Subri.

Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya infrastruktur dasar bagi kehidupan masyarakat pedesaan. Tanpa jembatan, mobilitas terhambat, biaya distribusi meningkat, dan keselamatan warga terancam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: