HARIANMUBA.DISWAY.ID – Di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman, seni bela diri tradisional kuntau masih menunjukkan eksistensinya di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan.
Kuntau, yang berasal dari budaya Melayu dan telah lama berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Sumatera dan Kalimantan, kini menjadi bagian penting dari pelestarian budaya lokal di Muba.
Di masa lalu, kuntau bukan sekadar teknik bela diri, melainkan juga memiliki nilai adat yang tinggi.
Masyarakat Muba kerap menampilkan kuntau dalam berbagai upacara adat seperti penyambutan tamu kehormatan, prosesi pernikahan seperti Maleteh atau Majang-majang, hingga sebagai pembuka jalan dalam arak-arakan pengantin.
BACA JUGA:Rumor Galaxy S27 Usung Baterai Super Cepat: 100% Dalam 10 Menit?
BACA JUGA:Progres Tol Betung–Jambi di Muba Terus Dikebut, Seksi Betung-Tungkal Jaya Capai 22 Persen
Namun, kemajuan zaman membuat eksistensi kuntau mulai meredup.
Praktik kuntau kini semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melihat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Muba melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya melakukan pelestarian seni tradisi ini.
“Sejak tahun 2000, kami telah melakukan pendataan dan pembinaan terhadap seni kuntau agar tetap hidup di masyarakat,” ujar Dr. Iskandar Syahriyanto, MH, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muba.
BACA JUGA:Cara Efektif Meningkatkan Interaksi Pelanggan dengan Pesan Otomatis
BACA JUGA:Bupati Muba Lepas Ribuan Peserta, Bhayangkara Muba Run 2025 Meriah dan Banjir Hadiah
Ia menambahkan, seni kuntau rutin dilibatkan dalam berbagai acara budaya seperti Pekan Kebudayaan Daerah, sebagai upaya untuk memperkenalkan kembali seni ini kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Komitmen pemerintah daerah turut diwujudkan dalam bentuk penghargaan kepada para tokoh pelestari seni kuntau.
Dua di antaranya adalah Rusli Damai dan Muhammad Isa, guru kuntau asal Desa Lumpatan.