Setetes Madu Sabak Antarkan Anak Ke Bangku Kuliah, Kisah Kelompok Budidaya Lebah Dari Desa Sukamaju

Minggu 19-10-2025,06:09 WIB
Reporter : Dodi
Editor : Dodi

Ditempat ini pula sempat dilakukan panen dari kotak koloni kemudian diproses hingga menghasilkan madu.

Sutrisno kepada harianmuba.com mengungkapkan pada tahun 2021 Program CSR PHE Jambi Merang datang ke desanya dengan beberapa program salah satunya adalah ide untuk membudidayakan lebah madu.

"Desa kami ini termasuk ring 2 nya PHE Jambi Merang setelah wilayah Bayung Lencir, jadi terdapat beberapa program CSR termasuk budidaya lebah madu," jelasnya.

Sutrisno mengingkapkan saat itu ada 3 desa yang mendapat program ini dari PHE Jambi Merang. "Namun hanya kelompol didesa kami yang masih bertahan," paparnya.

BACA JUGA:Realme GT 8 Pro dan Infinix GT 30 Siap Guncang Pasar Smartphone Gaming: Inovasi Modular vs Performa AI

Sutrisno pun menceritakan ditahun pertama mereka dan kelompok dari dua desa lain mendapat bantuan 10 kotak koloni. "Kemudian secara berturut-turut kami mendapat bantuan yang sama di dua tahun berikutnya sehingga menjadi 30 kotak koloni," terangnya.

Wilayah tempat budidaya lebah madu sabak ini berdekatan dengan kebun akasia milik salah satu perusahaan nasional yang memiliki konsesi hutan tanaman industri (HTI). 

Bunga akasia yang tumbuh menjadi sumber utama nektar, bahan baku madu. Dari situ lahirlah madu berwarna hitam dan kuning tua, khas madu Sabak Sukamaju.

Sutrisno mengungkapkan dari bantuan kotak koloni dari PHE Jambi Merang saat ini kelompoknya sudah memiliki 300 kotak koloni.

BACA JUGA:Kontingen Lubuklinggau Disambut Hangat, Porprov Sumsel XV Siap Dibuka di Muba

Disamping itu beberapa warga yang secara mandiri membeli kotak koloni dan juga ikut dan menitipkan kepada kelompok ini.

Sehingga diperkirakan mencapai 2.000 kotak koloni yang ada di kelompok budidaya lebah madu sabak ini dengan produksi mencapai 150 hingga 250 ton setiap bulan.

Sutrisno sendiri mengungkapkan untuk penjualan pihaknya masih melalui tengkulak dengan kisaran harga saat ini kisaran Rp 29 ribu perkilo.

"Kami sangat bersyukur karena dengan begitu bisa membantu perekonomian warga, karena ada yang bisa menguliahkan anak saat ini sudah sampai semester 5 serta ada yang bisa membeli kendaraan walaupun roda 2 saja," jelasnya.

BACA JUGA:Dorong SDM Kuliner Unggul, Ketua TP PKK Muba Hj. Fatimah Toha Buka Pelatihan Sertifikasi Chef BNSP

Sutrisno mengungkapkan usaha budidaya lebah madu sabak ini memang bukan penghasilan utama warga desa Sukamaju, namun tetap merupakan usaha sampingan yang menjanjikan.

Kategori :