HARIANMUBA.DISWAY.ID,- Puasa Ramadhan sering kali dianggap sebagai momen “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus. Tak sedikit orang justru mengalami kenaikan berat badan karena pola makan yang tidak terkontrol saat sahur dan berbuka.
Padahal, jika diatur dengan tepat, Ramadhan justru bisa menjadi momentum terbaik untuk menerapkan pola diet sehat dan memperbaiki metabolisme tubuh.
Perubahan waktu makan selama Ramadhan memang cukup drastis. Jendela makan yang terbatas sering membuat sebagian orang tergoda mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan gorengan secara berlebihan saat berbuka.
Kunci utama agar puasa tetap sehat adalah keseimbangan gizi, pengendalian porsi, serta pemilihan makanan yang memberi energi tahan lama.
BACA JUGA:Kolaborasi Polisi, TNI dan Perusahaan di Lais Tanam Jagung 1,5 Hektare, Dorong Ketahanan Pangan Muba
BACA JUGA:Jika Tol Trans Sumatera Palembang–Bengkulu Tersambung, Ini Prediksi Waktu Tempuhnya
Sahur berperan penting sebagai “bahan bakar” tubuh selama berpuasa. Karena itu, pilih makanan yang mampu melepaskan energi secara bertahap.
Beberapa pilihan yang dianjurkan antara lain:
Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau oatmeal.
Protein tanpa lemak seperti telur rebus, ayam tanpa kulit, ikan, tahu, dan tempe untuk menjaga rasa kenyang lebih lama.
Sayuran hijau yang kaya serat untuk membantu sistem pencernaan.
Buah dengan kadar gula sedang seperti apel, pir, atau pepaya sebagai pelengkap nutrisi.
BACA JUGA:Jelang Ramadhan 1447 H, Polsek Sungai Lilin Sikat Miras di Lima Tempat Karaoke
BACA JUGA:Sambut Ramadhan 2026, Ini Makna dan Tata Cara Mandi Sunnah Sebelum Puasa
Metode memasak juga berpengaruh besar. Sebaiknya pilih teknik rebus, kukus, atau panggang dibandingkan menggoreng. Makanan asin dan berlemak tinggi sebaiknya dibatasi agar tidak memicu rasa haus berlebihan saat siang hari.