Ramadan di Simpang Bayat, Dari Singkong Murah Menjadi Tepung Bernilai Tinggi

Ramadan di Simpang Bayat, Dari Singkong Murah Menjadi Tepung Bernilai Tinggi

Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Embun Pagi binaan Jambi Merang sedang mengolah singkong yang panennya melimpah di desa. Singkong diolah menjadi tepung mocaf yang nilai ekonominya lebih tinggi.--

Manager Community Involvement & Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program pemberdayaan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan kelompok, tetapi juga membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal. Mocaf dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap tepung gandum impor sekaligus memperpendek rantai produksi.

Bagi para anggota KWT Embun Pagi, dampaknya terasa nyata. Mereka kini memiliki aktivitas produktif yang memberi tambahan penghasilan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

BACA JUGA:Safari Ramadan di Desa Mekar Jadi Sungai Lilin, Wabup Muba Serap Aspirasi Warga

BACA JUGA:Lampung–Aceh Bisa Ditempuh Sehari! Jika Tol Trans Sumatera Tersambung Penuh, Sumatra Tak Lagi Sejauh Dulu

“Sekarang kami tidak hanya menanam, tapi juga mengolah dan menjual produk jadi,” ujar Riyanti.

Di tengah suasana Ramadan yang sarat makna berbagi, perjalanan singkong di Simpang Bayat menjadi kisah tentang ketekunan dan keberanian mencoba hal baru. 

Dari kebun sederhana di pekarangan rumah, lahir tepung mocaf yang tak hanya mengisi meja berbuka, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi keluarga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait