Ramadan di Simpang Bayat, Dari Singkong Murah Menjadi Tepung Bernilai Tinggi

Ramadan di Simpang Bayat, Dari Singkong Murah Menjadi Tepung Bernilai Tinggi

Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Embun Pagi binaan Jambi Merang sedang mengolah singkong yang panennya melimpah di desa. Singkong diolah menjadi tepung mocaf yang nilai ekonominya lebih tinggi.--

HARIANMUBA.DISWAY.ID, – Menjelang waktu berbuka, suasana Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, terasa berbeda. 

Jika dulu singkong hanya direbus atau digoreng sederhana, kini bahan pangan lokal itu menjelma menjadi aneka hidangan berbuka yang tersaji hangat di meja-meja warga.

Perubahan itu tak lepas dari pendampingan yang dilakukan PHE Jambi Merang kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi. 

Di tangan para ibu rumah tangga, singkong diolah menjadi mocaf (modified cassava flour), tepung alternatif pengganti terigu yang kini menjadi sumber penghasilan baru.

BACA JUGA:Ramadan 2026 di Muba, Pemkab Siapkan 4 Agenda Religius yang Libatkan Ribuan Warga

BACA JUGA:Bukan Cuma Samsung! Xiaomi, Vivo, dan Oppo Siap Hadirkan Layar Anti-Intip di HP Flagship 2026

Riyanti (45), anggota KWT Embun Pagi, masih ingat betul masa ketika harga singkong hanya Rp2.000 per kilogram. “Hasil kebun banyak, tapi nilainya kecil. Kadang rasanya capek sendiri,” ujarnya.

Kini, singkong yang sama diproses melalui fermentasi, pengeringan, hingga penggilingan dengan standar yang lebih baik. 

Hasilnya adalah tepung mocaf berlabel yang dijual Rp34.000 per kilogram. Lonjakan nilai itu bukan sekadar angka, melainkan perubahan cara pandang terhadap potensi desa.

“Awalnya kami tidak yakin bisa bersaing dengan terigu. Tapi setelah dicoba, rasanya ringan dan cocok untuk banyak makanan,” kata Riyanti.

BACA JUGA:Sumsel Siaga Mudik 2026! Herman Deru Targetkan 1.500 Km Jalan Mulus dan 4 Flyover Baru Atasi Macet Lebaran

BACA JUGA:Bukan Lagi Sekadar Mobil Niaga! Suzuki Carry Minivan 2026 Berubah Jadi MPV Stylish untuk Keluarga Modern

Di bulan Ramadan, dapur kelompok ini nyaris tak pernah sepi. Mocaf diolah menjadi bakwan, pisang goreng, brownies kukus, hingga bolu pandan. Bahkan untuk kebutuhan Lebaran, tepung tersebut dipakai membuat nastar, kastengel, dan putri salju.

Selain menghasilkan mocaf, kelompok ini juga memproduksi eyek-eyek, camilan tradisional berbahan dasar singkong yang renyah. Produk-produk itu mulai dikenal lebih luas setelah dipromosikan dalam berbagai pameran daerah, termasuk ajang di Palembang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait