Lupa Membaca Niat, Sahkah Berpuasa? Berikut Penjelasannya

Senin 25-03-2024,05:18 WIB
Editor : Dodi

HARIANMUBA.COM,- Lupa Membaca Niat, Sahkah Berpuasanya? Berikut Penjelasannya.

Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. keberadaan bulan Ramadhan juga disebut sebagai bulan Al-Qur’an. 

Bukan hanya karena diturunkan Alquran di bulan Ramadhan juga pada Bulan Ramadhan pula biasanya umat Islam lebih ramai dan lebih sering membaca Al-Qur’an. 

Pada Bulan Ramadhan mereka lebih banyak mengkhatamkan Al-Qur’an dibandingkan dengan pada bulan-bulan lain. Nah dikutip dari laman NU ONLINE Lampung.

BACA JUGA:Satu Keluarga Diduga Jadi Korban Keracunan AC Mobil, Satu Orang Meninggal, Saat Melintasi Tol Indraprabu

BACA JUGA:Kebakaran Hebat Penyulingan Minyak Mentah di Babat Toman, Asap Membumbung Tinggi Membuat Gempar

Itulah yang dilakukan generasi salafush-shalih sejak era Sahabat, Tabi'in, Tabi' at-Tabi'in dan generasi setelah mereka hingga saat ini. 

Fenomena ini sebagaimana yang  telah diteladankan oleh Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. berkata, “Jibril (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi saw. setiap tahun sekali (khatam selama Ramadhan). Pada tahun beliau menjelang wafat, dua kali khatam (selama Ramadhan).” (HR al-Bukhari). 

Sangat banyak kelebihan dan keistimewaan bulan Ramadhan, kita berlomba meraihnya.

 Terlepas dari itu, meskipun banyaknya fadhilah dan kelebihan yang dimiliki Ramadhan, namun ibadah Ramadhan tanpa dilandasi dengan niat sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat Islam, tentunya puasa Ramadhan juga tidak berarti. 

BACA JUGA:Dihadapan Pengurus IKA-Muba, Pj Bupati Apriyadi Umumkan Tahun 2024 ini Listrik MEP Beralih ke PLN

BACA JUGA:Diamankan Terlibat Kasus Pencurian, Warga Sinar Tungkal Kedapatan Simpan Senpi Rakitan

Sebagaimana ibadah-ibadah lain, niat menjadi rukun yang mesti dilakukan dalam puasa Ramadhan. Niat adalah i’tikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan. 

Kata kuncinya adalah adanya maksud secara sengaja bahwa setelah terbit fajar ia akan menunaikan puasa. 

Imam Syafi’i sendiri berpendapat bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khathara) dalam hatinya maksud untuk berpuasa. (al-Fiqh al-Islami, III, 1670-1678). 

Kategori :