Berawal pada tahun 1930, dengan bentuk Algemeene Midlebaar School A Afdeling Yogyakarta (AMS).
Kegiatan belajar mengajar pada masa AMS A ini dilaksanakan di Jalan A.M. Sangaji.
Lokasinya kini berada di sebelah utara SMK Negeri 2 Yogyakarta.
BACA JUGA:BKKBN Ingatkan Dampak Buruk Stunting Bagi Masa Depan Indonesia
BACA JUGA:Mobil Inova Parkir di Pusat Perbelanjaan di Palembang Raib Dicuri, Karcis dan STNK Ditinggal Dimobil
Direktur sekolahnya adalah DR. W.F. Stutterheim.
Direktur pada periode berikutnya adalah DR. J.S. Schoutten, DR. C. Hoykaas (pakar Sastra Melayu), dan DR. Terbraak.
Semua sekolah lanjutan menengah tingkat atas dilarang pada masa Jepang.
Sekolah-sekolah lanjutan di Yogyakarta dibuka kembali pada permulaan tahun ajaran 1942-1943. AMS A dan AMS B dipersatukan, selanjutnya disebut SMT.
BACA JUGA:Jahe Ternyata Bagus Buat Penderita Diabetes, Berikut Sederet Manfaat Lain Dari Jahe
BACA JUGA:Kikim Area, Salah Satu Calon Kabupaten di Sumsel Paling Siap Untuk Diresmikan
Pemimpin pertama sekolah ini adalah R.J Katamsi, lalu R. Sugardo, Dr. Priyono juga pernah memimpin SMT tersebut. Perubahan AMS menjadi SMT berarti suatu kemunduran, sebab bagian A maupun bagian B pelajarannya merosot (Sutrisno Kutoyo, 1997: 315).
Konsep sekolah AMS A Afdeling ini tetap dilanjutkan setelah Indonesia merdeka. SMA Bagian A yang berdiri pada tahun 1951 merupakan wujud dari penerus AMS A Afdeling. SMA Bagian A menempati gedung di Jalan Jati 2, sekarang menjadi Jalan C. Simanjuntak (Sri Sutjianingsih, 1981). Pada saat yang sama, Pamong dan Guru SMA Bagian A juga mendirikan SMA Bagian A “Perjuangan” yang menampung eks pelajar pejuang yang menempati gedung SMP 5 Jalan Wardani, masuk sore. Tidak lama kemudian SMA Bagian A Perjuangan (SMA 2/A) masuk pagi berdampingan dengan SMA Bagian A ‘Afdeling ( SMA 1/A).
Apabila di zaman sekarang, kita mengenal SMA Negeri 1 Yogyakarta sebagai SMA Teladan, hal ini tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada tahun 1957. SMA 1/A dan SMA 2/A dilikuidasi menjadi SMA Teladan dengan SK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan No. 128079/s tanggal 16 Des. 1957.
Perubahan inilah yang menandai ditempatinya gedung baru di Jalan Pakuncen (Jalan HOS Cokroaminoto 10), yang hingga saat ini dipergunakan SMA Negeri 1 Yogyakarta.
BACA JUGA:Seminggu Pasca Idul Adha, Pembeli Daging Sapi Sepi, Harga Ikut Turun